Senin, 21 Februari 2011

TIAP HARI ADALAH HARI LUAR BIASA


Menciptakan moment Valentine Day setiap hari emang bukan perkara gampang.

Dalam hari-hari penuh kesibukan kerja, masalah kantor yang bejibun, sumpek dengan team work yang tak saling mendukung, atau barangkali kerja yang tak selalu memberi keuntungan finansial; namun masih bisa menyisihkan waktu untuk menciptakan saat-saat mengesankan bagi keluarga, itu adalah hari yang luar biasa! Uang berharga, namun waktu untuk keluarga lebih berharga.

Dalam panik dan cemas karena target kerja tidak tepat sasaran, ragu dan bimbang proyek memberi manfaat bagi banyak orang atau tidak, ketidakyakinan akan efektifnya cara kerja dan sistem tak berjalan baik; masih mampu mendedikasikan kata-kata pendukung untuk istri yang repot dan kerjas keras membehani rumah, dan anak yang sibuk belajar, itu adalah hari yang luar biasa! Ungkapan dukungan tetap diperlukan oleh anggota keluarga dan sahabat meski suasana tak baik sekalipun.

Dalam perasaan kekurangan spirit karena kerja tak juga menghasilkan prestasi dan kondisi lebih mapan, ketidakmampuan meningkatkan etos kerja lebih baik, ketakberdayaan menyaksikan negeri ini masih menyebar tangis di mana-mana, kebimbangan akan kekuatan pluralitas ini masih tertanam atau mulai mati rasa; masih sempat memberi hadiah-hadiah dalam bentuk sederhana untuk anak istri, hmm itu adalah hari luar biasa! Hadiah tetap perlu didedikasikan untuk keluarga tercinta meski situasi paling buruk sekalipun. Kehadiran diri di antara mereka adalah hadiah luar biasa.

Dalam kekurangan dan tak mampu memberikan energi lebih baik, ketidakyakinan meningkatkan kualitas kerja dan hidup menuju level paling baik, terjebak dengan kelemahan diri; namun tetap terlibat dalam pelayanan yang memberi tanpa minta upah, memberi tanpa pamrih, itu adalah hari luar biasa! Melayani selalu lebih baik daripada dilayani.

Dalam tubuh lunglai dan pusing kepala, karena kerja tak ada habisnya, otot tubuh makin menua, energi tak sebesar masa muda; namun masih bisa memberi sentuhan fisik dan sentuhan batin yang erat dan menyamankan anak dan istri, itu adalah hari luar biasa! Sentuhan fisik dan batin tuk anak istri selalu membuat kelegaan berdiri atas berbagai keterbatasan.

Lebih luar biasa lagi, karena hari-hari biasa menjadi luar biasa tatkala Valentine Day dirayakan tanpa menunggu Februari datang, kesenangan diciptakan menjadi kebiasaan dalam ketakberdayaan, kesukaan dimunculkan dalam kereterbatasan, ucapan syukur senantiasa dilahirkan dalam ketidakmampuan, itu baru menjadi hari luar biasa.

Karena tiap hari adalah hari menciptkan saat-saat mengesankan.
Karena tiap hari adalah hari memberi dukungan.
Karena tiap hari adalah hari memberi hadiah-hadiah yang mengejutkan.
Karena tiap hari adalah hari memberikan pelayanan.
Karena tiap hari adalah hari memberi sentuhan yang menyamankan.

Yang luar biasa itu menjadi dibiasakan di hari-hari biasa, meski ini tak biasa dan dan di luar kebiasaan; karena tiap hari adalah hari luar biasa.

Jumat, 19 November 2010

Pesan Pendek Suami Seorang Guru (3): One Heart. Belajar Menangkap Tanda-tanda


Istriku, ada banyak ilmu gratis di toko buku, ada banyak kompilasi pengalaman bertahun-tahun para pakar yang bebas kita unduh di cyber space, ada banyak hati yang dituangkan untuk mereka yang haus kasih sayang lewat sebuah ruang yang disebut sekolah, dan ada waktu bagi kita untuk tetap menjadi teman belajar kelompok, di sibukmu, dan di sibukku. Mari belajar bersama. Teori Peter Senge mengenai Learning Organization (LO), adalah salah satu ilmu gratis untuk membedah peliknya sekolah mengantar murid bertumbuh sesuai potensinya, menjadi jalan keluar dari gang buntu kedisplinan sekolah yang tak pernah leluasa dirasa oleh mereka yang dididik di dalamnya.

Jika kau sedang mengajar di kelas, katakan, “Pancarkan sinarmu, murid-muridku!” “Tingkatkan kapasitasmu. Ciptakan hasil yang paling kita inginkan di kelas ini, bersamaku. ” Lalu bedahlah situs-situs terkini dan segeralah kau daratkan di realitas bumi kita. Biarkan mereka menemukan benang merah di antaranya. Lalu di jam terakhir kau katakan, “Mari, kita coba penemuanmu, penemuanku, penemuan kita! Dengan begini kita bisa belajar konkrit, real, langsung menjawab persoalan hidupmu!”

Di hari lain, ajaklah murid-muridmu aktif dalam perenungan. Temani mereka secara ajeg mengklarifikasi kondisi diri. Beri kesempatan mereka memperbaiki gambaran diri. Beri waktu mereka dan tuntunlah mereka mengenal dan menemukan konsep dirinya sehingga mempengaruhi mereka tatkala mengambil keputusan terbaik.

Dan jangan lupa, beri mereka nasihat terbaik di alam pluralitas, di kota modern yang bernama multikultural, “Belajarlah menyatukan perbedaan, Anak-anak. Melalui keberbedaanmu, bangunlah komitmen kelompok! Bersama, tetapkan ekspektasi!” Dengan mengajar demikian, kau telah berbagi tentang pentingnya berbagi!

Dan ini juga jangan dilupakan! Ajarlah mereka ‘Bersinergi’. Doronglah mereka agar terbuka untuk belajar, belajar untuk terbuka. Dengan mereka, bersamalah menggali apa yang tak diketahui, yang belum pernah dilakukan. Bekerjasamalah. Ini ilmu gratis terpenting di alam penuh egoisme ini.

Sebelum kau pulang menemui keluargamu yang paling kau cinta, jangan sesekali kau tinggalkan ilmu gratis yang kelima ini. “Berpikir komprehensif”. Ajaklah murid-murid dan rekan sejawatmu, menginternalisasikan dan mendaratkan hal-hal konseptual dengan cara sederhana. Selalulah kau berinisiatif untuk menyederhanakan, mengefektifkan, dan menyelaraskan sistem berpikir. Jangan buat yang sulit menjadi makin sulit, buatlah itu menjadi paling mudah. Oleh karena itu teknologi... ada!

Ayo, pulang, kau sudah kujemput dari tadi. Aku telah di pintu gerbang sekolahmu. Mari istriku, boncenglah di Vario kita. Dengan begitu, kita teruskan belajar kelompok kita, eits, belajar berdua...! One Heart! Belajar Menangkap Tanda-tanda.

Pesan Pendek Suami Seorang Guru (2): Setiap Hari Bangunlah Team Work yang Efektif....!


Satu orang bekerja efektif, bisa membuat 3 orang mitranya bekerja dengan sama efektifnya. Tiga orang bekerja efektif bisa membuat 9 orang mitranya bekerja dengan sama efektifnya. Sembilan orang bekerja efektif bisa membuat 27 orang mitranya bekerja dengan sama efektifnya. Dua puluh tujuh orang bekerja efektif bisa membuat 81 orang mitranya bekerja dengan sama efektifnya. Delapan puluh satu guru di sebuah sekolah yang bekerja efektif bisa membuat 1000 lebih muridnya belajar efektif, bahkan melebihi ekspektasi guru-gurunya.

Melalui tools dari Teamwork: What Must Go Right/What Can Go Wrong (Sage Publications 1989) yang telah kumodifikasi ini, gunakanlah untuk memeriksa kefektifan team work-mu.
Tim harus memiliki tujuan yang jelas. Hindari pernyataan yang rumit dan membingungkan. Komando harus jelas, tidak ambigu, bermuara pada suatu performa yang spesifik, yang dinyatakan dengan ringkas sehingga semua orang mengetahui ketika tujuan telah tercapai. Sebaliknya tim juga tahu ketika ada masalah, dan mereka harus waspada dan sigap menghadapinya. Semua anggota tim saling menguatkan dan saling melengkapi kelemahan masing-masing.

Tim harus memiliki struktur yang digerakkan oleh hasil. Dalam organisasi besar kadang kala tim harus diijinkan beroperasi dalam cara-cara yang menghasilkan suatu hasil. Paling baik adalah ketika tim diijinkan mengembangkan strukturnya sendiri. Saling percaya, dan saling memahami, menghilangkan praduga, dan syak wasangka, memupus iri hati, menghilangkan kebencian pribadi, adalah bagian persyaratan penting bagi tim yang mau bertumbuh dengan benar.

Tim harus memiliki anggota tim yang kompeten. Penghargaan kepada yang lebih kompeten harus terjadi. Pendelegasian wewenang dan pelimpahan tugas kepada yang lebih kompeten perlu dilakukan untuk mensolidkan langkah tim. Tapi di lain waktu, berani memberi kepercayaan anggota tim lain dalam rangka untuk menumbuhkan kompetensi agar bertumbuh sama baiknya dengan anggota tim yang lain, adalah sebuah keharusan untuk tim yang sedang bertumbuh.

Tim harus memiliki komitmen yang dipersatukan. Tidak setuap anggota tim harus setuju terhadap setiap hal. Namun kebiasaan tim untuk menyatukan setiap perbedaan, mau menerima dengan lapang dada keputusan bersama, dan selalu aktif menyelesaikan sumber permasalahan hingga tercabut ke akar-akarnya; itu adalah pentingnya komitmen.

Tim harus memiliki iklim kolaboratif. Setiap anggota tim berusaha untuk jujur, terbuka, konsisten, dan saling menghargai. Iklim semacam ini membangun prestasi tim dengan baik. Tanpa iklim semacam ini, tim akan gagal.

Tim harus memiliki standar tinggi yang dimengerti oleh semua anggota. Anggota tim harus mengetahui ekspektasi tim. Apa yang diharapkan dari mereka secara individu dan secara kolektif, harus dipahami bersama. Tidak cukup hanya sekadar “bersikap positif” dan “berusaha melakukan”, yang lebih penting dari itu adalah tim selalu berusaha mencapai target terbaik sesuai ekspektasi dan bahkan melebihi ekspektasi.

Tim harus menerima dukungan dan semangat dari luar dan dalam. Dorongan dan pujian akan berguna untuk memotivasi tim dan juga individu. Setiap orang anggota perlu dikuatkan, dimotivasi, direfresh dan di-charge selalu!

Selamat, membangun team work, istriku.

Pesan Pendek Suami Seorang Guru (1): Prosedur-prosedur Sederhana untuk Solusi Masalah Kompleks


Perusahaan, organisasi, atau bahkan sekolah bisa menjadi besar, tidak semata-mata karena sang pimpinan, bisa jadi itu karena hasil usaha para karyawan yang kreatif dan inovatif. Di masa teknopreneurship ini memang harus mulai dibiasakan pola pikir bagi seorang karyawan untuk melakukan tugasnya bak seorang pemilik. Pihak pimpinan dan pihak anak buah harus mulai menciptakan nuansa kepemilikan yang tinggi atas institusinya.

Seorang karyawan harus memotivasi dirinya untuk membuat desain program bagi kantornya bak seorang pemilik ide atau gagasan yang mengharuskan dirinya berpikir kreatif dan bahwa gagasan usaha juga bisa berasal dari dirinya tidak melulu bos-nya. Seorang karyawan yang memiliki talenta, bakat, hobi dan minat apa pun yang sesuai dengan visi dan misi kantor, itu adalah ladang emas bagi institusinya. Memang betul, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan sesuatu yang menjadi kesukaan, hobby, minat, atau kebiasaannya. Semua tugas pekerjaan kantor yang sesuai dengan minatnya akan dilakukan dengan senang hati. Apalagi jika seorang pimpinan mengerti ‘kebisaan’ dan ‘kebiasaan’ anak buahnya, memahami pengalaman kerja para stafnya, maka keahlian dan pengetahuan yang dimiliki mereka itu akan sangat menolong team work institusi itu untuk memulai pola kerja atau usaha sejenis di masa depan dengan lebih kreatif.

Seorang guru, yang adalah seorang pekerja di sebuah institusi pendidikan, adalah garda depan kemajuan sekolahnya. Dari bilik kerjanya, ide dan gagasan orisinil seorang guru bisa membuat kemajuan hebat untuk sekolahnya. Selamat, mengembangkan gagasan-gagasan yang jelas dan kreatif. Selamat mengembangkan ide dengan fokus, konkrit, mudah dikerjakan, memang sangat diperlukan sebagai solusi saat ini, dan melangkah dengan prosedur sederhana agar bisa dilakukan dengan ajeg dan penuh kebersamaan. Hal pelik, kehilangan peliknya karena telah disederhanakan dengan cara dan prosedur sederhana.

Selamat berproses kreatif, istriku.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Buku Harian Seorang Guru (5) Mencoba Hal-hal Baru dan Memaknai Tanda-tanda Zaman

Aku tidak akan melupakan peristiwa hari ini. Pak Gito, seorang teman, guru baru, baru mengajar tahun ini. Wajahnya tampak letih, keringat belum kering mengalir dari dahinya. Kutemukan ada cahaya matanya yang tampak kecewa pada dirinya sendiri. Seolah mengerti apa yang terjadi dalam benak pikirannya, dengan enteng sambil menepuk bahunya dan duduk di kursi sebelahnya, kukatakan,”Jangan kuatir.... yang sudah terjadi di kelas, biarlah terjadi, Tuhan yang akan menyempurnakan karya Pak Gito di kelas.” Dengan spontan dia meluruskan badannya, menatap wajahku seolah tak percaya dan berkata,”Apa Bapak tahu kalo saya tidak percaya diri di kelas tadi? Di sepanjang jam saya mengajar, di seluruh kelas yang saya masuki?!”

“Wow... wow... sabar, Pak, saya bukan dukun, dan saya enggak tahu apa yang terjadi di kelas Bapak?”. Dengan mendekatkan kepalanya ia berujar,”Pak, apa yang Bapak bilang, benar, benar sekali, saya kuatir dengan diri saya, apakah saya betul-betul bisa mengajar dengan baik. Saya tidak percaya diri. Saya sudah berusaha menyiapkan serapi mungkin, serajin mungkin, sesemangat mungkin. Saya guru baru! Saya tidak ingin gagal!”

Sambil berjalan, mengajaknya ke kantin sekolah dan sambil makan mie pangsit Tante Lily, siang tadi aku berterus terang pada Pak Gito. Bukan hanya dia yang tidak percaya diri mengajar. Aku pun sering kali mengalami itu, bahkan setelah beberapa tahun mengajar. Bahkan aku tidak yakin apakah yang kuajarkan itu mampu memberi keubahan pada murid-muridku. Sampai aku berserah betul, apa yang kuajarkan adalah apa yang telah Tuhan perintahkan. Berusaha memahami kehendak-Nya, berusaha memahami perintah-Nya, dan ketika merasai ada banyak kelemahan pada diriku, kubilang pada setiap akhir pelajaran, baiklah Tuhan yang menyempurnakannya. Aku sudah berusaha melakukan bagianku.

Sejak itu aku tidak gentar memberi pengajaran di kelasku! Kesulitan demi kesulitan memberikan pengalaman baru. Berusaha memahami setiap kegagalan dan terus melangkah mencoba hal-hal baru! Setiap hari kubilang kepada diri sendiri hingga hari ini, hari di mana kutemui wajah suntrut Pak Gito selepas mengajar tadi. Adalah bijaksana mengajar materi pelajaran yang sesuai dengan tanda-tanda zaman, bisa diterapkan dan mampu menyelesaikan problematika kehidupan sehari-hari. Pengajaran berbasis kasus-kasus kehidupan sehari-hari memberi kesempatan kepada murid-muridku untuk mengembangkan kompetensinya secara maksimal, lebih mendarat, lebih menjawab kebutuhan kekinian bahkan juga keakanan. Media yang tersedia di sekelilingku adalah sarana belajar keterampilan hidup yang menghidupkan. Dan bagai guru baru, setiap hari aku berusaha mempersiapkan pengajaranku, agar aku tidak meremehkan materi yang bakal kusampaikan, dan berusaha percaya diri. Dan percaya Dia yang bakal menyempurnakan kelemahanku ketika aku sudah berusaha serapi, segiat, serajin, dan sesemangat seorang guru baru.

Pak Gito, setiap hari aku adalah guru baru. Aku tidak ingin gagal di kelasku. Aku akan serius menyiapkannya. Serius. Sepertimu!

Buku Harian Seorang Guru (4) Mengajar dengan Jujur dan Tulus

Harus kuakui, tidak semua materi pelajaran telah aku siapkan dengan matang. Untuk menyiapkan malam sebelumnya pun kadang aku sudah kehabisan tenaga, tepatnya, kehabisan semangat. Apalagi kusiapkan jauh-jauh hari, sungguh sangat jarang. Ketika menemui topik yang menyenangkan, kugeber habis tenagaku untuk menyiapkan, tatkala menemui topik yang agak sulit dan tidak begitu menyenangkanku, justru kadang aku lompati, malah aku buang, kuganti topik lain yang aku lebih siap mengajarkannya di depan kelas. Perasaan ini kadang menggangguku, tapi lebih sering kuabaikan, cuek beibeh.......

Sepanjang hari ini, rasanya badan pegal semua. Kalo ada Mak Darsih, pemijat di kampung halamanku sono, pasti ia segera kupanggil untuk memijatku sekarang. Sentuhan lembut dan kuat tangan berkeriputnya membuatku kangen. Aku tidak akan menyalahkan program sekolah, yang 3 hari ini full time kukerjakan, mulai bikin proposal, ndesain acara, nyiapkan pengisi acara, ngatur murid ndekor, hubungi perusahaan yang ngasih sponsor, ngoordinasi anak OSIS, dan sa-abreg lainnya. Ini toh sudah tugasku, mustinya aku minum vitamin tiap hari, tapi jatah dana obat sudah habis bulan kemarin.

Betul kata Pendeta Secundarius Wahyudi, temanku Guru Agama yang sangat kreatif itu. Kejujuran dan ketulusan dalam pembelajaran di kelas akan membuka hati setiap murid untuk bersikap terbuka, merangsang keberanian berprakarsa, tidak berpura-pura, dan apa adanya. Potensi tersembunyi si murid dapat terlihat karena ia jauh dari ‘rasa takut, tidak berani mencoba, rasa malu, enggan, tidak bersemangat, dan tidak konsentrasi’. Karena gurunya lebih dahulu berkata, ”Cobalah, rasailah kegagalan supaya kau tahu apa rasa keberhasilan! Jangan takut, bertanyalah terus, dan lakukanlah. Aku di sampingmu!”

Alangkah baiknya aku mengajarkan materi pelajaran yang telah aku lakukan dan aku kuasai. Aku persiapkan dengan matang, dan aku plan jauh-jauh hari. Dan mengatakan terus terang apabila aku masih mengumpulkan data untuk memuaskan pertanyaan murid-muridku. Dari pada memberi jawaban ngawur atau berkata tidak tahu. Aku tidak ingin menunda sampai esok lusa! Besok aku harus siap dengan jawaban lengkap yang perlu diketahuinya. Dan akan kukatakan dengan jujur dan tulus, bahwa baru sampai sekian aku mengetahuinya.

Apakah seorang guru mutlak mengetahui segalanya? Kupikir tidak, tapi seorang guru mutlak harus memandu murid-muridnya menemukan jawaban dari segala sumber yang ada.

Oh, penatnya hari ini. Mak Darsih.....!

Buku Harian Seorang Guru (3) Mengajar untuk Melenyapkan Kelemahan

Sabar....sabar.....sabar...... begitu yang terus kubilang saat mengajar materi penting hari ini di kelasku. Si Romy, keturunan Ningrat dari Surokarto itu memang muridku yang sangat istimewa. Tatkala hampir tuntas materi, tinggal pokok bahasan terakhir, aku sempatkan bertanya untuk kali kesekian pada murid-muridku, “Ada pertanyaan, Anak-anak?” Kupandang seluruh kelas, sesaat senyap, tak ada yang mengangkat tangan dan menunjuk atap kelas yang sudah mulai lubang di sana-sini. “Ada, Pak” sahut suara kecil agak melengking dari arah pojok kanan, Si Romy. “Apakah boleh diulang lagi bagian terakhir tadi, Pak? Saya tidak ngerti.” Segera kuulang penjelasanku tadi, dan kuberi tekanan pada bagian-bagian yang sangat penting, dengan harapan murid lelakiku yang paling kecil tapi bersuara paling melengking ini bisa lebih paham dan tidak menyimpan ketidakmengertian. “Sudah jelas, Rom?” “Belum, Pak, masih belum ngerti.” Tidak ada ekspresi wajah yang berusaha mempermainkan guru, tak ada juga rona kebandelan tuk menggoda guru, yang kulihat memang betul-betul tak dimengertinya penjelasanku tadi. “Ini terakhir Bapak jelaskan hari ini di kelas, tapi kalo tetap belum mengerti, nanti bapak layani lagi di luar jam ya...” Dan mulailah aku menerangkan lagi.... Peristiwa hari ini, adalah untuk kesekian kali, penjelasan ulang, untuk Si Romy yang istimewa dalam menangkap materi, perlu diperjelas berulang kali hingga mengerti. Dan aku menuntut diri untuk mencari cara lain yang lebih efektif, untuk membuatnya lebih mudah mengerti.

Kisah Si Romy dan murid-muridku yang serupa, ada banyak di kelas lain, membawa pesan penting hari ini. Aku jadi ingat nasihat Pak Adi Pratjaja, dosen Agama di kampus IKIP Malang dua pulu dua tahun lalu. Ada harga yang harus dibayar mahal oleh seorang guru yang ingin bertahan sampai garis akhir. Selain sanksi yang besar – karena apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan -, upah yang diterima pun lebih kecil dari beban yang harus ditanggungnya. Mengajar murid, tidak berhenti sampai di jam pelajaran berakhir. Kadang masih harus menyisihkan waktu makan siang untuk membantu mereka paham. Kadang waktu untuk keluarga makin berkurang karena tak kuasa menolak pertanyaan dari mereka pascabel pulang.

Sudah seharusnya aku melakukan identifikasi murid-muridku. Di mana letak kelebihan dan kekurangan mereka. Belajar adalah mengalami kemajuan dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik. Mengajar bukanlah sekadar menyampaikan pesan, tapi lebih dari itu, mengajar adalah mentransformasi kehidupan. Bukan transfer pengetahuan, apalagi transaksi ilmu. Ada murid ‘tidak pintar’ dan ‘tidak baik’ mendaftar sekolah; seyogyanya kita terima dan kita sambut ramah! Untuk itu sebuah profesi GURU dilahirkan. Sayang, sekolah sekarang malah prioritaskan mencari murid pintar saja. Enggan terima murid ‘bodoh’ menurut anggapan orang. Apalagi menerima murid yang ‘bermasalah’ dengan sikap dan kelakuan. Menolak mereka adalah salah kaprah! Sekolah ada untuk mereka. Guru ada untuk mereka. Aku ada untuk mereka.

Aduuuh beratnya tugas ini......... Ayo semangat.....semangat! Begitulah aku berteriak kepada diriku sendiri malam ini, sebelum esok menghadapi masalah baru lagi.